« August 2007 | Main | October 2007 »

Teuing euy!

sebenarnya sedang tidak ada pikiran apa-apa..
tapi aku coba, dan terus mengetik, menekan hurup-hurup kibor, sehingga pikiran ku tertuang dalam tulisan, tulisan yang tanpa pikiran apa-apa, dan sampe sekarang aku memang belum menyampaikan apa-apa.. ini seperti kalimat lisan yang omong kosong mengalir begitu saja memang..
dan akhirnya saya tertarik berbicara tentang pikiran dan tulisan: menulis dalam rangka menyampaikan sesuatu, bukan menulis dalam rangka menulis. ya sesuatu yang harusnya penting.
sampe saat ini aku belum merasa ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, jadi biarkan saja, aku takkan mencari-cari topik, coba menjelaskan diri, atau mengingat-ngingat apa yang terjadi hari ini.. sepertinya tulisan memang tidak berdiri sendiri, tapi penulis memberi bacaan sesuai keinginannya, dan sepertinya memang begitu...
masih berlanjut omong kosong ini... tidak sesederhana menyajikan tulisan memang, tulisan seharusnya merupakan suatu yang bisa menjelaskan suatu bentuk sikap penulisnya. sesuatu yang dititipkan penulis kedalam tulisannya..
apakah ini membosankan? saya pikir ya, dan tidak baik jika diteruskan

                            

yg gw bayangin, dr kata jakarta

sebenernya gw ga yakin...
tapi jakarta, dari pengalaman gw yg sedikit, dari pengetahuan gw yg selewat..
hh...h, ada dua bayangan yg mungkin muncul, mungkin saling mencampur keduanya..
meski bising, dibawah jembatan layang pikiran terbang terhanyut kemana-mana.. seperti dalam misi atau perjalanan khusus, mungkin dalam suatu tawar-menawar yang lebih adil.. atau mungkin tidak berpikir apa-apa, dan tidak benar-benar sedang menjalani waktu. dan pada malam hari, dari jalanan yang mulai sepi, muncul imajinasi tentang sibuk dan padat rumah-rumah andai saja tanpa tembok. kegiatan peristirahat atau yang lainnya mungkin. selanjutnya.. dalam paket yang lain, terbayang perumahan tenang, kadang seharian di rumah. mereka meyakini sesuatu, yang didapat dari renungan-renungan, membaca buku, atau juga dari musik dan tv. jarang bepergian tapi selalu menjadi yang melelahkan, mungkin karena merasa harus memilih-milih, termasuk sahabat atau juga tempat untuk sekedar duduk-duduk. atau mungkin tidak berpikir apa-apa, dan tidak benar-benar sedang menjalani waktu. bepergian yang terencana, bahkan untuk berjalan-jalan sekalipun.

topik yang ga jelas memang

ya.. dunia, dalam waktu

aku pernah merasa tidak sulit untuk berkeyakinan…

 

kini, setiap mendengar bunyi kitab suci atau pun puji-pujian tuhan dan rosul, selalu teringat masa lalu… saat semua berserah pada keyakinan.

saat kemudahan dan kesulitan yang tidak terkhawatirkan. keyakinan dipandang hormat, kesempurnaan menjadi cita-cita. walau tetap menyadari tak mungkinnya kesempurnaan, keyakinan indah terlihat. kitab suci dan puji-pujian adalah nyanyian bersama. dan dunia yang terbayang tidaklah terik, redup yang santai. seperti selalu ada pelangi setiap kali hujan, atau jingga di sore hari.

 

walau disebrang jalan ada beberapa coret-coret dinding. orang-orang yang sebenarnya jauh dari mengancam, dengan tindik dan tatto di sekujur badan. dan tidak jauh dari situ ada penghisap darah merpati. seperti ada keyakinan aneh di wajah orang-orang itu, mungkin keyakinan yang belum terdefinisikan. dan semua memandang prihatin, berdoa, dan saling menasehati. mungkin mereka hanya ingin defenisi itu, seperti tak pernah cukup. seperti merelakan diri masuk penjara atau mengidap amnesia. terlihat menarik sekaligus mengerikan…

 

aku berdoa, dan dunia redup selalu diramaikan kitab suci atau pun puji-pujian, diselingi tegur sapa ringan orang-orang atau juga suara angin.

 

kini dunia terasa terang seperti menelanjangi. kadang teriknya terasa di kepala. pakaipun menjadi alasan-alasan, semua beragam, tapi membosankan. tetap tidak menarik walau berisik. ada banyak senyum membosankan dan tangis yang kasihan. setiap mendengar kitab suci atau pun puji-pujian aku teringat masa kecil ku, melepaskan ku dari kenyataan. pada kenyataan masa kecil, dandalam kenyataan hanya ada aku dan suara kitab suci atau pun puji-pujian, membuatku ingin menangis. walau takkan pernah menangis. aku mulai terbiasa dengan itu. saat ini, apa yang perlu ditangiskan?

ko udh pagi lg...

ga tau bangun jam brp, trs cuci muka menulis dan bercakap-cakap sampe jam ga tau,  keingetan rncana bikin base sumarja  gw  bilang mo beli roko tp ke sr, d sr-sumarja ada andro gw disitu dan ninggalin rencana sm anak2 belakang, tau-tau adzan asar entah jam berapa, ga bawa hp, trs makan sama andro di salman, balik lagi ke sumarja ngegawein base lg... ga kerasa pas mo bikin kopi udh gelap malam ga tau jam berapa, trs ngegawein lg, bbrp anak datang tpu jg, lama... tp ga tau sampe jam berapa, ke grafis bikin tulisan iseng2 bwt rencana main2 sampe aga lama, kluar cabut ke belakang lg mngkn msh pd ngumpul tp ktemu fajar darto dan nyangkut sbentar gara2 ada seru2an, nyampe lg di belakang sepi cm guntur lg pke internet dan ternyata itu jam 1 lebih, oh... udh dini hari,  hp ku br diaktivin, ada sms dan miscal, widi endru dan ogek minta gw dtng k braga, tp ga lah, akan menyenangkan tp trlalu mrepotkan jalan ksana, mngkn lain kali, trs ketik2 bentar, widi endru dtng ktawa-ktawa bawa bir, seperti tidak hadiah yg lbh menyenangkan, mereka brencana nonton brazil dan taruhan, ngalor-ngidul endru balik widi tidur, ga nonton bola sampe selese, gw mnghabiskan bir, trs ngetik ini, skrng ... udh aga pagi euy!

fuck it all

ya.. untuk yang satu ini aku menjadi whitdrawer, bukan contender. karena aku pikir anugrah atau pun malapetaka bisa terjadi disini.
aku tidak meyakini konflik-ku. untuk hal ini aku bukan contender, karena aku tak tau bagaimana harus kumenangkan konflik-ku. menyedihkannya lagi, sebanarnya aku belum menjadikan masalah ini sebagai konflik. aku hanya menghayalkan kemungkinan-kemungkinan konflik ini berjalan...
semoga hayalanku tepat, setelah kutemukan a solv my (simply fuken) problem, konflik ini akan ku mulai...

dia

penyebab masalah fatal itu sepertinya sudah ditemukan, kesenangan sesaat yang selalu dihantui kemurungan. ada spekulasi tentang hal itu..
karena spekulasi-spekulasinya tentang sikap dia mendapat sebutan si gila. dia membenci hantu kemurungan sekaligus kebaikan bersama yang sedang tersepakati: kesenangan sesaat. dan dengan segera dia menjadi penjahat zaman ini, penjahat gila yang meyakini perbuatannya.
sebagian menonton dengan tertarik, sebagian merasa terancam, sebagian memuja kegilaanya, sebagian kebingungan dan tak mau tau, sebagian meyakininya, sebagian ..., .... ...., ... ....
dia telah menjadi penjahat, setidaknya bagi penghuni kemapanan yang sedang terjadi. mungkin sebenarnya hanya penjahat yang ingin mengalahkan kemapanan, mungkintidak sejahat itu...
ada puzzle yang hilang, semuanya hanya tersampaikan sebagai kejahatan...

...

"mngantuk... tidur dmna ya?"
lalu tiba-tiba teman bicara: "jangan gitu dong, kdengarannya aneh..."

hahaha, ya seperti homesick yg tak tersembuhkan, padahal awalnya ga bermaksud konotasi apa pun

ngapain?

stelah smua yg telah kita lakukan, lalu apa lagi, dan besok sudah dapat dipastikan, aku akan tetap bernapas, buat ngapain? yang pasti buat apapun, karena apapun itu kita perlu bernapas..
omong kosong yang bertele-tele memang..
tapi bukankah aku berhak mengatakan: tidak ada yang tidak omong kosong? kita layak melakukan suatu kegilaan, suatu kegilaan yang akan terus bersama kita sampai akhirnya nanti.. bukankah kita hidup untuk kegilaan.. atau kegilaan tidak dapat terhindarkan? jika memang begitu kita telah bersepakat ttg ssuatu yang omong kosong, gila, dan apa, besok pasti ngapain-ngapain..

aku akan suka mengucapkan: aku bertanggung jawab penuh pada diriku sendiri, untuk tetap melamunkan semua omong kosong dan menjadi gila pada akhirnya. bukankah sewajarnya kita mesti gila atas semua yang dihadapkan..

aku sadar, aku adalah...

sering kabur dari kenyataan yg berat, lebih suka curhat dibanding diskusi,  lebih suka berkomentar dibanding bertanya-tanya untuk jawaban, tidak suka berada dalam keragu-raguan, membicarakan konsep tapi tak bertanggung jawab untuk intuisi-nya, meminta kenyamanan tanpa tau bagaimana itu bisa mengganggu, selalu mengaku pintar walo memang ditakdirkan untuk malas, suka mengajukan detail tanpa mampu menyimpulkan, mengajukan keyakinan yang hanya datang dari pikiran sendiri yang mungkin berperspektif sempit, tidak meyakini apa-apa, spontan dalam berpikir bingung dalam kenyataan, tidak mengenal istilah resiko dan tidak keberatan menjadi pemohon diesok hari, berpikir untuk terlihat keren dan dikagumi, ..., ..., ...

a spam mail, seperti promosi web

Ave, my dear friend

I am very happy that I have found your profile. My English is not so good,
but I do my best. I learned English at school. My languages are Russian and
Ukrainian. I am a very serious person. I want to find the kind husband, fond
of me, and create family with him. I like children very much and I want to
have children in the future (certainly a boy and a girl). I am seriously
searching for true love in my future partner.  I will reply at
http://ifoundthelove.net/myhoney] to any of your possible questions.
Love is worth living for. Faithfulness, honesty and loyalty are very
important to me, as I will be the same way to my beloved husband. I want a
loving husband by my side. I want him to support me, care for me, love me,
respect me and enjoy me always. He has to be intelligent enough to
understand my knowledge and intellect. Together I want  us to create a
healthy loving family with wonderful children.

Waiting for your


Slavochka

bullshit

klo kenyataan yang tiba2 terasa begitu terharapkan dan membuat ingin menangis karena sudah dipastikan tidak mungkin didapatkan, apa lagi yang mungkin? tidak ada, karna kita berada dalam kesadaran yang jauh dari harapan, kita sedang tidak meyakini esok hari!!
apakah mabuk ciptakan kenyataan? sepertinya cukup bisa hilangkan gelisah.. bisa membantu untuk menumbuhkan harapan detik ini, dan bertahan di esok hari, begitulah sistematikanya, linear isn't it?

teguk semua minuman yang ada, hingga tidak cukup bisa meneguk, sampe kita selesai belanjakan semua sisa uang yang ada di saku, sampe kita melupakan dan tertidur tak sadarkan diri. dimanapun tempat yang mungkin, berjalan tidur, pada waktu kita tertidur: di meja, lantai, duduk bersandar, tempat manapun yang tidak kita pikir sebelumnya. dan kita menyadari kita akan membenci yang telah terjadi dan cukup punya masalah untuk diselesaikan. mual, sisa nafasnya di tenggorokan dan seluruh tubuh, cukup kusut tapi semoga tidak semua orang tau betapa itu sangat kusut..
mungkin mualnya memaksa seperti mules seorang yang akan melahirkan, tapi sama sekali tidak segawat itu, karena ini mungkin memang sepele. hanya perlu dimuntahkan dengan benar, dengan diam-diam. mengangkat semua isi perut dan membuangnya, tapi tidak terlalu mudah, tidak semudah memuntahkannya. perlu dirasakan betapa ini tidak menyenangkan, memuntahkan itu bukanlah soal yang akan terjadi, tapi harus terjadi, ada sedikit perbedaan disitu.. kita hanya harus menanggung muntah dan membuatnya sendiri, sepertinya tidak sesederhana mengangkat semua isi perut lalu memuntahkan.. itu termuntahkan karena kita merasa begitu membenci yang sedang dirasakan, tenggorokan perut kepala dan semuannya dengan kondisi yang tidak bagus sepertinya, perlu merasakan sesuatu yang perlu dimuntahkan, merasakan kemualannya, dan mengeluarkan kemualannya, jackpot
dan selesailah semua, tidak ada yang salah mungkin, tamasya pun selesai dan berangsur-angsur berjalan pulang