« October 2007 | Main | December 2007 »

gw aga ga setuju... bukan karena baudrillard membantah nietzche, tapi karena hampir sama, dia bilang tuhan telah lenyap tuhan telah menghilang. gw percaya Yang Satu itu berada dimanapun Dia mau, dan kepercayaan itu tak perlu alasan ha..666X

baudrillard bialng begini:
tuhan telah lenyap. ia tidak mati, tapi menghilang

dia menanggapi soal kejahatan-kejahatan yang tidak akan pernah sempurna, karena dunia menutupi lewat penampilannya, ditutupi lewat ketidak beradaan dunia. aku lebih suka menyebutnya sebagai kejahatan yang terdefinisi sebagai kebenaran karena 'ketidak beresan dunia'. Nietzche bicara matinya tuhan dalam tema potensi kreativitas yang ada dalam diri manusia. mungkin karena nietzche hidup  sebelum zaman avant-garde (masa tradisi), kehidupan kebangsawanan yang terang-terangan saja sebelum adanya pasar, masyarakat dengan usaha pada transendensi bukan kerelaan pada imanensi.

baudrillard mengungkapkan kejahatan bersembunyi dibalik dunia, dan dunia bersembunyi dibalik ketiadaan, bagaimana mungkin? nyatanya memang kadang terpikir bagaimana fenomena-fenomena hanyalah ketiadaan yang dipaksakan muncul. baudrillard kemudian menyatakan setiap manusia mau tidak mau terlibat dalam 'adegan utama' kejahatan dan melakukan pertobatan yang terus berulang.
tuhan mungkin tidak dianggap kehadirannya dalam keseharian, dalam parodi dilantiknya ilusi sebagai gambaran dan telah ditentukannya ikonisasi. katanya ironi adalah satu-satunya bentuk manusia modern.

lagi-lagi aku suka mengakui tuhan sebagai penerimaan atas suatu kepercayaan yang ditawarkan. dan aku percaya tuhan selalu ada itu saja. dan manusia adalah makhluk yang mungkin dianggap-Nya tidak mampu. dan melihat hal itu, saya melihat sangat banyak manusia tak mau mengakuinya. tuhan memang sangat terkesan ditiadakan, ketuhanan dalam kejahatan yang tidak sempurna.
jika kata perasaan itu dapat mewakili, manusia memang makhluk yang tidak konsisten pada karakteristik yang dibebankannya. manusia cengeng mengalah pada pencapaian pikirannya. inilah yang aku sebut sebagai ketidakmampuan. manusia perlu ketuhanan, sayangnya peradaban dengan pengagungan agama hadir bersamaan praktek disingkirkannya Tuhan.

                            

dr. Douwes Dekker

"............................
Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".

teuing

All the mistakes I've ever made in my life have been when I've been drunk. I haven't made hardly any mistakes sober, ever, ever.
<Tracey Emin>

tulisan dibikin juga gara2 workshop di button 21

Suatu Pandangan tentang Fenomena di Jalan Dago Keseharian jalanan dago merupakan fenomena kompleks yang terlahir dari kesadaan kolektif masyarakatnya sehingga hadir suatu ’budaya’ khusus. Dan Dago sebagai ruang publik merupakan area yang disepakati untuk dapat membuka partisipasi semua orang. Dan mungkin inilah bagian penting dari fenomena jalan dago (oleh banyak penghuninya yang berasal dari berbagai latar belakang) difungsikan sebagai area yang hanya peduli pada nilai-nilai komersial. Kita akan sulit menemukan adanya komitmen untuk Dago sebagai ruang publik yang mengembangkan budaya untuk kebaikan bersama (juga mencerdaskan). Namun harus diakui telah terjadi banyak pembangunan di jalan Dago. Pembangunan yang terjadi dijalan dago sangat berkaitan dengan komersialisasi. Dimana setiap orang adalah bagian dari proses komersialisasi itu, pemasaran dan konsumen. Dan salah satu pengaruhnya adalah berlaku budaya konsumerisme. Dalam budaya ini, bangunan-bangunan sengaja dibuat megah, penuh tanda-tanda asing yang menarik, eklektik yang penuh tiruan-tiruan visual. Ini menghadirkan efek psikologis berupa keterkejutan dan keterpesonaan. Dan Dago adalah ruang artifisial yang mensimulasikan penghuninya untuk memakai budaya yang berlaku, budaya konsumerisme. Ketika segala sesuatu hanya berdasarkan kemasan, dan juga eksistensi manusia (baca: prestise). Kita hanyut pada perubahan-perubahan dan kemunculan ’beda-beda’ (yang merupakan tanda lama), berada dalam prosesnya tanpa meyakini sesuatu yang kita jalani. Tonnies pernah berkata budaya kota itu gesselschaft, dimana seseorang dipandang sebagai objek kepentingan bukan sebagai anggota komunitas. Dan di Dago, setiap orang adalah bagian dari strategi pemasaran. Misalnya seorang pengemis mendapat peran memperagakan suatu masyarakat terbelakang yang menjual rasa kasihan, atau pengunjung yang membeli prestise, atau juga trend analyst yang merekomendasikan pertimbangan dalam strategi pemasaran. ”kita tidak butuh budaya, hanya butuh konsumsi hiburan”, sebuah quote Hannah Arendt, yang menggambarkan bagaimana budaya yang dibangun sebenarnya hanya berorientasi pada hiburan. Dan tentu saja budaya seperti ini sangat mudah diterima, mengingat kecenderungan dasar manusia. Budaya yang dibangun mengakomodasi ego manusia. Dan manusia terkesan sebagai makhluk individualis pemburu bentuk-bentuk hiburan. Dijalanan Dago terlihat sesuatu dikemas dalam bentuk hiburan. Kemudian saya akan mengajukan suatu contoh. Saat ini kita kenal, parking park, kemacetan, warung nasi pinggir jalan, pa ogah dan tukang parkir, hingga banyak iklan prodak baru mobil dan seluruh penghuni kota. Merujuk konsep hegemoni Gramsci: ’kekuasaan dibangun atas persetujuan-persetujuan’, maka praktis dapat disimpulkan bahwa kota adalah tempat subur komersialisasi konsumsi hiburan. Telah terbentuk kesepakatan apatis kota, dalam gambaran kesepakatan mayarakat dalam memilih secara bebas mobil dan motor yang kenyamanannya ditawarkan iklan dan fasilitas umum orang banyak seperti warung makan yang pas-pasan. Kesepakatan tersebut (oleh massa) dilestarikan dengan hadirnya parking park, tukang parkir dan pa ogah dimana-mana, dan prihal kemacetan tidak lagi menjadi masalah yang penting. Dan mungkin orang dari kalangan warung nasi pas-pasan juga terus memimpikan mobil untuk proyek eksistensi yang akan terus menambah kemacetan dan polusi udara. Setidaknya terdapat kesepakatan yang serupa dijalanan Dago, dimana telah disepakati: komersialisasi, konsumerisme, apatisme, dan budaya kota lain. Dan mungkin Dago tidak lagi dikenal sebagai Dago, dibenamkan oleh logika pemasaran komersial. Dengan sikap individualis dalam perebutan dominasi di jalan Dago. Suatu usaha merebut dominasi atau meminta persetujuan atau membangun opini di masyarakat kota yang instan. Suatu logika sebagai peraturan tertulis yang telah disepakati.