hhh..hh
aku hanyalah tubuh ini, juga dengan segala isi kepala yang ga karuan
« February 2008 | Main | April 2008 »
aku hanyalah tubuh ini, juga dengan segala isi kepala yang ga karuan
tiba-tiba tertarik untuk menulis ini, soal Ruang TA, untuk deskripsinya, ok juga bisa berkesempatan pake ruang TA.
ruang TA menghadap ke jalan, sebenarnya semacam jaqlan alternatif, jalan yang ga terlalu besar, jalan utama memasuki kampus, jalan ganeca yang terhubung ke jalan Dago dan Tamansari.
ruang ini ga terlalu besar, sekitar 4 x 7 m, dari gerbang masuk tengah jendela ruang ini terlihat digedung sebelah kanan dilantai dua, kawasan FSRD, bagian timur depan komplek perkuliahan ITB.
dari jendela sini keliatlapangan parkir timur, lapangan rumput yang harusnya ga boleh diinjek, jalan ganeca yang lumayan sepi , dan pohon-pohonnya. darisini kadang juga keliat banyak orang ngumpul sekedar duduk-duduk, atau berlarian tak jelas dilapangan. entah golongan manusia dari kategori masyarakat mana mereka.. ketika dunia berlomba dengan perkembangannya, setiap orang memang tak perlu repot memilih golongan mana dia akan masuk.
jika dipikir ruang ini memang lebih dari cukup, good view. melihat rumput, pohon, lalu lintas, dan juga aktivitas orang-orang.
tempat ini cocok bagi orang yang suka mengamat-amati atau melalamun.
tulisan ini terlaludeskriptif dan sedikit berlebihan, tak akan pernah sama seperti yang dibayangkan atau dialami. tidak sebagus atau seburuk ini, atau mungkin tidak sebiasa ini..
Mr. B: klo mo ikut ke karaoke harus bawa pasangan!
Mr. S: ngga ada pasangan
Mr. X: blm ada, bukan ga ada.
Mr. S: wah masih belum tentu..
Mr. X: emang ada kemungkinan bwt ga berpasangan?
Mr. S: gat tau, semua mungkin.
Mr. X: kira2 kemungkinannya apa?
Mr. S: gat tau, pusing, maksudnya gimana emang?
Mr. X: yang bikin maneh sampe ga berpasangan sama cewe itu kira2 kenapa? Apa aja?
Mr. S: gat au, semua mungkin!
Mr. X: ah.. gmna? Misalnya klo suatu kejadian bikin maneh benci wanita terus jadi gay mungkin ga?
Mr. S: sejauh ini ngga..
Mr. X: jangan pke sejauh inilah.. bilang aja ga mungkin!
Mr. S: sejauh ini emang ga mungkin.
Mr. X: ok, klo gitu apa kira2 sampe bakal ada kemungkinan maneh ga berpasangan?
Mr. S: mungkin klo gw udh keburu tewas sebelum dpt pasangan.
Mr. X: ok, selain itu?
Mr. S: kira2 gitulah, pusing.. semua mungkin..
Mr. X: klo keburu tewas ga masuk itungan, itu diluar rencana, anggap umur kita panjang, kira2 apa lagi?
Mr. S: teuing rieutlah..
Mr. X: berarti jawab belum men.. bukan ga. Kan maneh yang rasain..
Mr. S: teteplah.. biar gitu, klo besok siapa yang tau.
Mr. X: maneh ngerasa pengen berpasangan ga?
Mr. S: sejauh ini, klo besok masih belum pasti.
Mr. X: hhh..hh
Obrolan pelik tanpa energi, Mr. S terlalu jujur berperan dalam percakapan ini, dlm tiap tanggapannya, ini masalah sudut pandang… padahal ga ada yang aneh dsni. Rasional kadang terlalu susah di empirikkan, tanpa bukti bukan kah kita berhak berkeyakinan? Jadi santai saja.. budaya lisan kadang bikin masalah.
ingat kebiasaan teman klo orang yang lagi ngobrol: "ah.. bacot!" atau temen yang lain, dia sering spontan emosi kalo denger pendapat orang: "muncung mu itu!" ada suatu bentuk gaya disitu, sedikit ada nuansa dry humour, karena serius yang tidak dibuat-buat tersebut, terasa tidak membosankan dan menjadikannya kerja yang serius.
harusnya tak ada yang salah dengan istilah bacot dan muncung. itu cuma kata yang ter-peyorasi hingga terkesan miring. sebaiknya lebih akrab lagi ajakan untuk bacot bersama, bermuncung ria, hingga menggantikan kata: diskusi.
dosen didepan kelasmenguraikan sesuatu, menjelaskan ini dan itu, lalu tanggapan mahasiswanya, juga ini dan itu, berpikir, berdiskusi secara runut, taat asas, dan sistematis. dialog lebih dari satu kepala memang perlu dalam batas objektif agar berjalan dengan pemahaman.
dan semua orang memang pernah melakukan aktivitas bacot. dosen, guru, pejabat, kakak, adik, hingga tokoh terkemuka tentu pernah juga membicrakan dan menerangkan tentang kejadian tadi pagi, makanan, mimpi buruk, menjelaskan perasaan, atau juga diskusi dengan tema-tema tertentu.
membuatku berpikir: tak perlu ada penghormatan berlebih atas subjek. cukup hormat, tak perlu berlebih, karena akan menyakitkan.
kita semua pernah bacot, jadi tenang saja..
siapa yang berhak ber-Tuhan?
bagaimana kamu tau itu?
tidak semua orang berkesempatan ber-Tuhan, ia terdesak dan tak mampu memperlakukan Tuhannya sebagai Tuhan,
dan tidak semua orang benar-benar menginginkan Tuhannya seperti yang ia tahu Tuhan inginkan,
sementara itu ada orang-orang yang bersikap berlebihan pada Tuhannya,
atau mungkin orang ber-Tuhan yang tidak menyadari saudaranya yang juga ingin ber-Tuhan
semoga aku sedang mengingat Tuhan sekarang, sebagaimana seharusnya memperlakukan Yang Maha Tuhan, walau mungkin sedang terdesak.
jika ia mungkin saja tak heran melihat tingkah ku sangat berkaitan dengannya, itu sangat wajar..
karena aku memang tidak terlalu mampu menutup-nutupi. dan itu masalahnya, aku sedang terus mencoba menutu-nutupi.
atas segala sikapku dan segala ketidakmampuanku, juga pikiran2ku, aku telah merasa bersalah. setidaknya sedikit. lalu aku berharap termaapkan, dan dianggap sebagai bukan masalah serius.
mungkin aku memang masih bingung. aku tidak pandai soal ini, tapi aku memang tak mengharapkan sesuatu apapun disini, kecuali tak ada masalah apa2 dan biarkan sajakebingungan ku ini.
aku pernah terlalu berpikir untuk menjadi tidak peduli sama sekali, dan itu membuatku merasa bersalah. ini memang imajinasi berlebihan, tapi menjadi tidak peduli sama sekali juga merupakan suatu sikap berlebihan. walau sudah terjadi, semua memang tidak perlu seperti itu. tidak ada yang harus terpedulikan atau pun diacuhkan, tapi semua harus biasa saja dan tak berlebihan. aku merasa tak karuan.
tapi entahlah, ini memang posting yang tidak terlalu penting bagi byk org. ketika aku menganggapnya penting, aku memang sedang berpikir ttg ini. aku pikir ini cukup meminta kesadaran penuhku, hidup dlm fenomena ini. orang yang melihat mungkin mengerti bagaimana ini berarti. maksudku bagaimanapun sikaplah yang menjadi acuan yang mencerminkan pikiran seseorang. dan kata tanpa sikap hanyalah kecurigaan zaman pada tingkah filsuf.
saat ini aku tidak keberatan pada apapun, untuk pandangan miring sekalipun. seperti aku tau hidupku bukan pikiranku, dan hanya membela diri saja tidaklah cukup. ini tidak penting, masalah yang sering muncul, tapi kebingunganku memaksaku untuk peduli.
Pada episode awal bangsa kita berdiri, ditetapkan cita-cita Trisakti: berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, luhur dalam berbudaya. Meski anggaran kemiskinan dinaikkan dari sebesar Rp 54 triliun di 2007 ke Rp 62 triliun di 2008, usaha pengentasan kemiskinan belum terlihat jelas. Makanisme survey memang belum mengkategorikan miskin berdasarkan kurangnya akses terhadap pelayanan dasar dan rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Dari data versi World Bank, Indonesia telah berhasil mengurangi kaum miskin sebanyak 2,13 juta orang dengan indikator pendapatan diatas US$ 1,55 per hari. Jika misalnya saja dirubah menjadi 1,6 atau 1,7 dollar per hari, data tentang turunnya angka kaum miskin pasti tidak terlalu bagus. Daya beli rata-rata sebesar 8000 perhari, diperparah dengan koefisien gini (KG). Kita adalah negara dengan KG yang parah. Pendapatan perorangan dari data diakhir 2007, Aburizal Bakrie menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 5,4 miliar dollar AS, meningkat beberapa kali lipat dari tahun 2006 yang sebesar 1,2 miliar dollar AS. Jika kita mau lihat sekeliling, fakta kemiskinan memang lebih parah dari data yang ada. Soal pendidikan, anggaran pendidikan 2008 sebesar 42,24 triliun, lebih kecil dari sebelumnya 44,7 triliun (yang juga dibawah 20%). Kemudian, tak ada undang-undang negara yang mengatur gaji guru dan melindungi kesejahteraan guru yang merupakan penggiat pendidikan. Catatan terbesar inflasi pada akhir tahun disumbangkan oleh sektor pendidikan yaitu 8,7%, diikuti sektor makanan sebesar 8,56%. Kedua hal tersebut memang benar-benar naik harga. Ketika berkenaan dengan status, pendidikan menjadi komoditas.
Ironis, mungkin hanya kata itulah yang pantas. Dengan begitu banyaknya masalah yang hadir, sebaiknya dilakukan koreksi atau sekedar kegiatan mempertanyakan kembali mengenai pendidikan kita. Dan untuk itu semua, kita mesti yakinkan diri bahwa kita adalah bangsa yang mandiri dalam berpikir. Atau, kita memang sudah melupakan masalah ini, atau mungkin juga belum menjadikan kemandirian berpikir sebagai masalah penting. Setidaknya beberapa kebijakan pemerintah boleh dibilang menggunakan susunan atau 'formula' import cukup memperlihatkan hal tersebut. Selain itu, boleh dibilang kita juga mendatangkan dan mengadopsi ilmu, teknologi, komoditas, hingga budaya. Kita praktis tak mengajukan hal penting apapun. Bersamaan dengan keadaan tersebut, pendidikan kita terus berjalan. Menurut kami akan sulit membahas kekeliruan praktek pendidikan saat ini, kecuali pembahasan tentang aturan-aturan dan target pendidikan kita. Dalam jalannya pendidikan, semua tampak biasa, dikerjakan sewajarnya, dan tidak terlihat menyalahi suatu apapun. Menurut kami, pembahasan mengenai hal ini memang harus dimulai dengan arah tujuan pembangunan pendidikan kita.
Sangat menarik untuk disampaikan, bahwa Indonesia adalah negara pengimpor daging dan hasil pangan. Juga negara yang terkesan tidak peduli untuk usaha preventif hingga bermunculan masalah lingkungan hingga tata kota. Dan juga, karena birokratisasai (suatu istilah), politik sebagai sebuah ilmu menjadi hanya sebagai instrumen kecil yang biasa dipakai para pengamat. Dari semua kondisi diatas, kami merasa pendidikan kita sebagai proses yang nyaris tak berdampak. Contoh lain: seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi termakan isu populer atau bahkan bentuk-bentuk hiburan dalam media massa yang sifatnya pseudo-rasional, dangkal, dan berkepentingan komersil. Dengan segala kondisi yang disampaikan disini, harus diakui ada masalah dalam pelaksanaan pendidikan kita. Dari sudut panadang budayawan atau filsuf, hal-hal tersebut mungkin merupakan sebuah metanarasi yang perlu dibongkar. Kondisi kemapanan-kemapanan yang terlihat biasa-biasa saja saat ini, biasa memunculkan masalah yang tidak diduga.
Dengan melihat permasalahan yang muncul, pendidikan harus benar-benar menjadi bagian penyusun dalam budaya masyarakat. Dalam hal ini negara menjadikan pendidikan sebagai bagian kerangka pembangunan. Pendidikan merupakan bagian pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan berperan penting untuk mewujudkan IPOLESOSBUD HANKAM yang sehat. Dengan wawasan tersebut, masa depan terdidik adalah masa depan bangsa, begitu juga sebaliknya. Dengan mengabaikan gejala tragedy of common, tingkat kesejahteraan akan berbanding lurus dengan tingkat nasionalisme warga negara. Nasionalisme sendiri bisa menjadi solusi kemanusiaan atas segala krisis yang terjadi. Meminjam konsep Alhtusser, pendidikan berfungsi sebagai ideology state aparatus (ISA) yang bisa saja membantu dalam pencapaian negara: kebaikan bersama. Sama seperti penyusun-penyusun lainnya, misalnya keluarga, pendidikan adalah kegiatan penanaman budaya. Melihat kondisi yang ada, memang perlu perjalanan panjang untuk mencapai kesana. Dan ongkos terpenting yang harus ada untuk mencapainya adalah harapan.
Kita memang perlu sedikit coba mempertanyakan hal-hal yang sedang terjadi. Bahkan untuk pertanyaan yang tidak popular, seperti: Kapan terakhir kali kita diminta untuk kritis? atau pertanyaan yang lebih memprihatinkan: kapan terakhir kali pertanyaan kritis kita dijawab dan dipedulikan? Dan harus diakui, bangsa kita lebih berorientasi pada gaya dibandingkan kegiatan berpikir. Semoga belum terlupakan, kurikulum perguruan tinggi seharusnya menghasilkan alumni yang bervisi. Dan semoga kita tidak menjadi lebih sering memilih gaya dibandingkan mengajukan sebuah gaya. Tanpa suatu usaha dan berpikir dalam menjawab dan mengajukan budaya, suatu bangsa akan kebingungan dan menjadi pengekor. Indonesia mejadi melupakan akar sejarahnya, bingung ditempatnya berdiri, sedang dimana dan akan kemana. Bangsa kita telah biasa menyerap utuh segala kebaruan yang ada. Kemudian biasa memulai pekerjaan baru dan membuang segala pencapaian yang telah dilalui. Terkesan ada masalah dalam keberadaan ideologi bangsa kita. Dan jika diperhatikan pendidikan Indonesia saat ini terkesan prematur. Akan sulit dibayangkan kemajuan apa yang mungkin dihasilkan melalui pendidikan kita. Atau kita memang hidup dalam kondisi yang serba prematur, cara kehidupan yang dijalani belum pada waktunya. Telah terjadi pada kita anggaran belanja yang ketat walau sifatnya kebutuhan hidup orang banyak. Infrastruktur-infrastruktur ekonomi, misalnya saja pertanian, belum terbangun kuat dan juga minimnya subsidi yang di-investasikan. Belakangan marak berita soal industri-industri kecil menengah tak terdukung dan dibiarkan tumbang. Dan dengan wawasan pendidikan yang didapat melalui pendidikan kita saat ini, usaha apa yang mungkin dilakukan nantinya? pembangunan atau penelitian macam apa? kebutuhan apa yang mesti segera dipenuhi? bagaimana dengan pembangunan SDM sebagai rekan-rekan kerja samanya dimasa depan? dan juga pertanyaan lainnya.
Tulisan yang terlalu panjang memang selalu membosankan. Tulisan ini akan diakhiri dengan kecurigaan telah hilangnya nilai-nilai pendidikan. Dengan logika komersil cita-cita pendidikan tak diemban oleh siapapun, pendidik atau terdidiknya. Sebagai negara yang menaungi kehidupan kita, pertanyaan yang memang wajar untuk diajukan dan dijadikan masalah: akan menjadi seperti apa Indonesia dalam IPOLESOSBUD HANKAM? Masalah yang mungkin timbul ideologi yang menipis dan tak tentu arah. Kemudian politik yang terlalu mapan hingga dialektika tak mengalir dan ekonomi yang tak membangun apapun dan berpotensi menimbulkan masalah-masalah lain. Selanjutnya aspek sosial masyarakatnya yang tanpa integrasi, juga tak aman, hingga hilangnya daya tawar negara. Budaya yang berkembang menjadi dangkal dan saling merugikan. Dan yang terakhir tidak terkelolanya pertahanan dan keamanan, hilangnya kedaulatan negara, dan juga menipisnya bela negara. Saya merasa perlu menggambarkan kemungkinan terburuk IPOLESOSBUD HANKAM yang mungkin saja terjadi. Akan sangat sayang jika hal-hal tersebut menimpa kita nantinya.
Ini adalah bayangan yang buruk, semoga memang terlalu buruk hingga tak menjadi mimpi buruk.Lalu bagaimana cita-cita Trisakti yang penah digantungkan tinggi-tinggi? Semoga perhatian penuh ada dalam hari-hari kita karena membangun sistem dan struktur yang baik saja tidak cukup. Kita tentu tidak bisa membiarkan semuanya berjalan sendiri tanpa memastikan semua telah tepat berjalan pada jalurnya. Ketakpedulian akan menimbulkan kebingungan. Jika corak hidup bangsa hanya menggambarkan ketidak pedulian, lalu manusia terhormat mana yang layak dihormati?
gila..
banyak alasan tanpa adanya pertanyaan, dan ga tau kapan selesainya..
ketika banyak orang bilang tak semua perlu alasan, kadang gw ga terima, sayangnya gw sendiri memang belum terlalu yakin.. anti konflik kah? gw pikir memang ga perlu ada konflik bwt hal yg sprti itu, tapi gw jg ga trlalu yakin apakah gw memang bener2 anti konflik.. gw pikir gw bisa sangat memandang mudah dan merelakan segalanya sekaligus bisa juga meminta sangat banyak. dengan batas2 tertentu yg gw pikir boleh dibuat.
inti masalahnya: gw masih bingung, merasa ga berkuasa sama kenyataan yang ada. dan masih saja berpikir apakah memang benar2 suka, pantaskah atau.. kenapa gw merasa suka, dan bagaimana kemungkinan jadinya nanti.
gila...
chapter 1 — updated 02/25/08 — 14160 characters — 0 people liked it
TAKUT
Deshi sedang dalam kesendirian malam, benar-benar sendiri. Untuk kali ini dia ingin benar-benar menikmati kesendiriannya. Dia merasa sedang tidak memiliki rencana apapun dengan pekerjaannya, juga dengan komunitasnya. Juga tidak merasa perlu menghadiri event apapun. Bahkan tidak sedang berminat untuk sekedar berkumpul dan bersenang-senang. Deshi mencoba memahami dan menyelami suatu perasaan yang menggelisahkan. Tiba-tiba dia ingat beberapa temannya yang pernah mengajaknya untuk sesekali jalan bareng. Pada bayangan wajah teman-temannya itu dia tersenyum hangat. Kemudia dia mengambil kertas dan pulpen, memulai coretan-coretan. Dia putuskan untuk menulis sesuatu. Dan menunda ritual berjalan-jalan ajakan beberapa temannya. Tangan Deshi tak menentu menuliskan kata dan istilah. Mungkin sesuatu yang menurutnya berhubungan dengan hari kemarin dan besok. Dia berpikir tentang hubungan-hubungan kata kalimat yang mewakili kenyataan menurut yang ia pahami. Kemudian ia hanyut dalam lamunannya dan pekerjaan corat-coretnya. Entah untuk berapa lama, mungkin sampai tertidur tanpa ia sadari. Secangkir kopi yang ia buat tadi belum juga habis. Hanya sangat sedikit untuk banyak tiap teguknya, tersisa setengah. Dan tanpa disadari puntung rokok memenuhi asbak.
Camila memprotes Deshi yang masih tidur. Rifat mengingatkan Deshi tentang kuliahnya yang terlewat, Deshi tidak peduli. Camila, Rifat, dan Deshi saling mengenal melalui klab baca di kampus, merupakan organisasi tak resmi. Rifat sendiri bukan mahasiswa, ia berwiraswasta dengan memproduksi fashion, majalah, dan segala macam yang berhubungan dengan gaya. Tubuhnya jangkung dan cenderung pendiam. Menurutnya gaya adalah sesuatu permainan tentang kemasan. Dan hasilnya adalah sebuah eksekusi yang dapat dilihat, didengar, atau pun dirasa, suatu detail tak berlebihan tak wajib yang sifatnya tambahan. Rifat bergabung dengan klab baca karena membutuhkan diskusi tentang uraian-uraian segala masalah termasuk keseharian. Baginya membaca buku atau melihat film yang bagus bisa memberikan pengalaman hebat yang uraiannya tak mungkin lengkap dikatakan. Berbeda dengan perasaan ekstase sesaat dalam berbagai bentuk visual atau juga kebanyakan lagu. Dia setuju dengan Camila yang menganggap semua hal-hal yang memang menarik dalam ‘pasar’ sebagai morphine, sesuatu yang semu, buih yang tak memberikan apapun. Siang itu Rifat dan Camila sama-sama memakai t-shirt bertuliskan: “did our doctor like hamburger?”, dan Deshi terlihat tidak suka dengan kedatangan dua temannya. Deshi merasa bingung dan perlu memikirkan sesuatu. Dia menanyakan teman-teman yang lain di klab baca. Kemudian bercerita telah begadang, dia bilang tidak bisa tidur. Camila bertanya apakah Deshi mulai insomnia, dan Rifat berkomentar tentang kamarnya yang berantakan. Deshi tersenyum, dan menanyakan tentang apa yang sebaiknya dilakukan, sekaligus memberi tahu bahwa ia lapar. Seketika Rifat mengajak keluar untuk makan. Deshi langsung menolak, dia merasa masih ingin tidur, atau segera mandi, atau mungkin melamun. Dia bilang akan segera menyusul ke kampus. Tiba-tiba dia berpikir soal sikap yang tinggi hati dan tidak berhati-hati. Camila dan Rifat pergi dari rumah tinggal Deshi dan bilang akan menunggu. Deshi tersenyum, dan dia mengatakan tak lebih dari satu jam dia akan sampai di kampus. Setelah Camila dan Rifat pergi, Deshi masih bingung ingin melakukan apa. Tiba-tiba terasa sedikit ingin menangis.
Seorang anggota baru di klab baca memperlihatkan ketertarikannya yang besar. Walau tercatat cukup banyak jumlah anggota klab baca, klab baca tidak selalu ramai. Hanya satu atau dua hari dalam seminggu klab baca ini ramai, saat jadwal diskusi, bedah buku, atau nonton film. Pengurus harian klab baca hanya sekitar belasan orang. Dan menjadi terus berkurang akhir-akhir ini. Beberapa anggota memang merasakannya sebagai suatu masalah, dan menjadikan permasalahan diskusi. Tapi kekhawatiran kadang tidak disertai masalah yang jelas. Dan masalah-masalah kadang timbul tanpa kesalahan-kesalahan yang jelas. Dunia mungkin hanyalah asumsi-asumsi yang alami berjalan secara acak, dalam kuasa alam. Camila sedang merapikan rak buku ketika Deshi datang. Dia berkata akan segera pulang, hari ini tak ada kegiatan jelas dan jadwal, kemungkinan akan dibicarakan besok. Deshi hanya merokok, dan coba menawarkan rokok yang dibawanya. Rama, si anggota baru menerimanya, Camila tak peduli tetap meneruskan pekerjaannya. Tiba-tiba terdengar sapaan Rifat, dia sedang membaca di teras belakang. Camila mengajak Deshi pulang, kesibukannya di rak buku sudah selesai. Rifat kemudian beranjak, dia memang berencana menemani Camila pulang. Deshi bilang tidak ikut, dia ingin tinggal untuk sekedar duduk-duduk. Rifat meragukan itu, tapi membiarkannya, kemudian mengajak Rama pulang. Rama terlihat sungkan, dia mengatakan mungkin akan duduk-duduk dulu lebih lama. Rifat dan Camila tidak keberatan, mereka segera pulang. Dan sebenarnya Rama juga berpikir untuk pulang, tapi ia tidak terlalu yakin. Deshi terlihat melamun, dan Rama pun melamun. Tanpa percakapan, cukup lama. Deshi kembali merokok, tanpa menoleh dia menanyakan nama sambil menyodorkan rokoknya. Rama tertidur, sapa Deshi cukup mengagetkannya. Dia mengambil sebatang rokok, saat papasan wajah, Rama kemudian tersenyum. Tanpa kesan serius, dan datar, Deshi bertanya: mungkinkah seseorang menolak kenyamanan? Rama kemudian coba memikirkan jawabannya. Rama menghisap rokoknya, dia memang suka percakapan seperti ini. Dia menyatakan ketidakyakinannya, dia berkata aku seorang yang akan terus mencoba taat asas. Deshi terlihat tidak peduli pada pendapat itu, kemudian memutuskan untuk hanyut dalam lamunannya. Rama tidak mengantuk lagi, juga tidak berpikir untuk segera pergi, dia merasakann kehadirannya diakui. Kemudian ia sampaikan bahwa ia telah cukup lama memperhatikan Deshi. Dia berpikir Deshi cukup terpelajar, dan juga cukup berani. Deshi menatap Rama dengan tanya, kemudian kembali tak peduli. Deshi tahu Rama menunggu pendapatnya, lalu dia mengatakan komunitas terpelajar adalah suatu sekte, sama halnya dengan common people yang mengelompokkan diri dalam bentuk-bentuk khusus. Rama bingung, kemudian ia berkata: “aku tidak suka sekelompok pemalas, sekte cengeng”. Deshi tersenyum, ia bilang kemungkinan dirinya memang seorang pemalas. Rama membuang muka lalu mencoba ikut tersenyum. Deshi bangkit dan mengatakan ingin pergi sekarang. Rama kemudian memutuskan juga untuk pergi. Kemudian Deshi menanyakan nama, Rama menjawab Rama.
Deshi mengajukan buletin resmi dan priodik keluaran komunitasnya, klab baca. Buletin itu bernama “Metanarasi”. Dia cukup puas dengan usahanya tersebut. Komunitasnya sedikit lebih berkegiatan. Beberapa kali buletin tersebut berhasil menjadi issue. Buletin tersebut berisi essay, berita, cerpen, resensi buku, artikel, dan tulisan apapun yang dianggap berisi. Rama anggota baru cukup menjadi perhatian. Cerpennya, berjudul “mati, membusuk, dan di umpat”, mendapatkan porsi diskusi khusus di klab baca. Dia bercerita soal tukang parkir yang berhasil menipu seorang selebritis. Dalam ceritanya, tukang parkir mencita-citakan perubahan keadaan total antara para kaya terhormat dan para miskin yang putus asa. Diskusi cerpennya cukup seru, Rama dianggap berhasil menyusun imajinasinya. Rama menghargainya, dan bersemangat pada seluruh temannya di klab baca. Dia bahkan mengajak menyusun imajinasi dan coba mewujudkannya. Rifat datang membawa sekotak kue pancong panas. Ketika itu diskusi berhenti, menjadi makan, bercakap-cakap, dan Rifat melihat papan tulis coba memahami. Lalu tiba-tiba ia meminta perhatian, dia berkata ingin menyampaikan sebuah pandangan tentang fenomena. Dan dia bilang ini sangat cocok untuk dijadikan kasus. Dia bilang ini teka-teki, seperti permainan, dan jawabannya bisa saja menarik. Rifat seperti menyambut ajakan Rama, dia bilang semua bisa belajar bersama. Lalu seseorang berkata: “ya, coba diskusikan saja dulu”. Semua seperti tampak setuju untuk coba membicarakannya. Diskusi dimulai, ada perubahan suasana. Meski terkesan tertarik pada diskusi, sepertinya banyak yang tidak terlalu meyakini rencana ini, termasuk Deshi. Rama tidak menyangka, dan sedikit heran. Ia teringat bagaimana Deshi menghadapi ancaman preman-preman nihilis dalam adu cepat menghabiskan satu botol Vodka dalam sekali nafas. Juga tentang Deshi yang berjuang sebagai saksi dan memberikan advokasi pada pedagang asongan yang diserempet mobil, atau juga tentang membantu seorang ibu dalam melahirkan mendadak. Tidak banyak persiapan untuk diskusi kali ini, beberapa celah belum terpikirkan. Lebih jauh lagi, semangat rendah untuk membicarakan dan memecahkan masalah yang dibawa.
Deshi menyapa Rama melalui instant messaging. Rama terkejut, Deshi memang memakai invisible. Ini kali pertama mereka bertemu dalam chatting, Rama merasa senang dengan kenyataan ini. Rama memberi tahu ada Camila, suatu kebetulan bertemu Camila di warnet. Dan Deshi memang sudah tahu, Camila yang memberi tahu. Rama ingin sekedar berbincang atau membahas sesuatu. Dia tiba-tiba bertanya alamat rumahnya, terdengar sinis Deshi menjawab: “maksud kamu rumah orang tua saya?”. Rama memberi tanda smile, kemudian meminta Deshi menceritakan sesuatu. Deshi berkata masa kecilnya normal, dan ia tak mau bercerita. Rama kehabisan kata. Chatting berhenti. Dan itu membuat Deshi gelisah, dia memang sedang gelisah, dan tak terpikirkan untuk apapun. Cukup lama, sampai Deshi menulis: “nama dan nama dengan itu kau membayangkan berlebihan”. Rama berpikir Deshi membicarakan soal banyaknya teori yang kadang tidak berguna, dan terlihat Deshi sedang mengetik. “kadang aku membuat tenang diriku dengan sengaja memandang dari kejauhan, data dan konsep, atau pun susunan yang sempurna”. Rama berpikir itu sebagai kalimat yang bagus, dan akan mencoba memahaminya, Deshi kembali sedang mengetik. “siapa yang menolak kesenangan hidup.. apa salahnya?”. Rama terkejut, dan bertanya kenapa. Rama merasa tak memahami percakapan ini. Tapi ia sangat tertarik, dan berpikir bagaimana cara menaggapinya. Dan kembali Deshi terlihat mengetik. “Pidato yang hebat, tulisan-tulisan yang menghanyutkan, aksi yang menawan, ide-ide cemerlang... itu hanya paruh waktu. Tak ada yang sempurna, penghormatan berlebihan tentu menyakitkan, menakutkan”. Rama masih belum mengerti, dan mengetik: “...”. Tiba-tiba Deshi menanyakan siapa tokoh yang Rama kagumi. Rama memikirkan beberapa tokoh, dia menjawab: “banyak”. Dan sebenarnya Deshi pun memang tak mengidolakan satu tokoh, banyak tokoh memberikan pelajaran yang sama baiknya, saling mengisi. Kemudian ia menulis: “Sehebat apapun, dalam menjalani waktu kita pasti nyaris sama. Sejauh ini aku bertahan hidup seperti halnya kau mempertahankan hidup. Mungkin semua manusia memang punya sisi kecengengan”. Rama tak mengerti, ia berpikir sedang mendengarkan sebuah pengakuan yang aneh. Dan ia sampaikan ketidakmengertianya, kebingungannya, dan arah pembicaraan mana sebenarnya. Deshi menjawab: “termasuk tokoh-tokoh hebat, tak ada yang benar-benar berwibawa sepanjang hidupnya, aku berani mengakui itu, dan aku merasa lebih tenang”. Rama setuju Deshi memang seorang yang cukup berani, percakapan menjadi lebih ringan dan mengalir. Kemudian Rama mengetik: “kalau begitu cukup jalani saja, semoga kita jeli, dan coba mendekati kebenaran. Dalam setiap waktu yang kita jalani”. Deshi memberi perhatian pada itu, perasaannya terasa berubah. Camila tampak masih sibuk dengan pekerjaannya. Rama berpikir untuk pergi dari warnet sekarang, jatah online dirasa sudah cukup. Diakhir chatting Rama menulis: “aku off sekarang, terima kasih, aku belajar soal berani, bye”. Rama memutuskan untuk tidak pamit pada Camila, dia langsung pergi.
Ada yang bilang, hidup adalah papan judi. Dan kita adalah pemainnya, pionnya, sekaligus taruhannya. Dalam jalan waktu dunia, ada kesan akselerasi. Memilih dan memutuskan, atau mengambil resiko. Akan selalu seperti itu, dan takkan pernah selesai. Ketika resiko itu kita tanggung, semua tetap berjalan, sama halnya ketika misalnya taruhan itu dimenangkan. Menang kalah adalah sebuah pergantian. Mungkin juga yang sebenarnya ada hanyalah kita dan pikiran kita: tak ada taruhan, tak ada resiko, tak ada menang-kalah. Kita terdesak dalam sebuah permainan, sama halnya dengan membuatnya menjadi permainan. Dan untuk semua nama dan konsep yang berbeda, kita hanya sedang membicarakan sesuatu yang sama.
Deshi sedang merasa dalam kesendirian malam, benar-benar sendiri. Kembali dia ingin benar-benar menikmati kesendiriannya. Ia ingin menikmati waktunya. Ia membatalkan rencana untuk upload di My Space-nya. Tiba-tiba terlintas rencana berhenti My Space. Dia tidak sedang mengenang apapun, dia sedang tidak merencanakan apapun. Seperti merasa takut, dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali merasa takut. Dia bahkan tidak berpikir atau pun menulis. Hanya melamun, seperti proses kecil dalam jalannya waktu. Dia sudah tidak membanggai keberanian-keberaniannya yang lalu. Dan kembali mengingat kejadian-kejadian yang terlewat karena keberaniannya tidak mau muncul. Baru kali ini perasaannya terusik. Keberanian yang radikal pernah dilaluinya, namun untuk banyak waktu semua ia lalui dengan kemalasannya. Dan ia menyadari, malas adalah perasaan takut yang harian. Untuk hal ini Deshi merasa mengalami suatu pencapaian. Dan untuk itu, ia telah habiskan banyak rokok. Juga hampir secangkir kopi. Tiba-tiba ia merasa tinggi hati. Deshi merasa telah lebih memahami hidup. Walau entah apa sebenarnya yang sedang dimaksud. Mungkin soal suatu perubahan yang mungkin. Lamunan seperti membuatnya melayang. Kemudian telepon berbunyi, membuatnya terjaga. Keindahan atau pun bentuk-bentuk pikiran buyar menjadi pecahan-pecahan. Tiba-tiba, Deshi sedikit terlihat seperti malas untuk telepon, lebih dari itu, juga untuk peneleponnya, dan untuk kesehariannya. Dia merasa terganggu. Dan mungkin itu masalah serius satu-satunya. Dan gangguan memang selalu jadi masalah. Atau mungkin masalah adalah sesuatu yang akhirnya menganggu. Deshi menghabiskan kopinya, dan beranjak mengangkat telepon.